Showing posts with label Biografi Ulama. Show all posts
Showing posts with label Biografi Ulama. Show all posts

Profil Biografi Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad Lengkap

Profil Biografi Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Kali ini akan dibahas mengenai Profil Biografi Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad Lengkap mulai perjalanan hidupnya mulai dari kecil hingga dewasa,  nasab dan silsilahnya, orang tuanya, guru gurunya, murid muridnya, kalam nasehat dan wasiatnya, hingga karangan dan karya kitabnya. Semua tentang Imam Haddad akan diulas di artikel ini. Kali ini akan dibahas secara lengkap mengenai Waliyul Qutub Shohibur Ratib Quthbil Irsyad wa Goutsil Ibad wal Bilad Al-Imam Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad mulai dari profil dan biografinya, kalam nasehat dan wasiatnya, karomahnya hingga perjalanan hidupnya secara detail agar kita bisa mengambil manfaat dari kisah hidup beliau dan menjadikannya contoh dalam kehidupan sehari hari. Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad (bahasa Arab: عبد الله بن علوي بن محمد الحداد), di lahirkan di Syubair di salah satu ujung Kota Tarim di provinsi Hadhramaut-Yaman pada tanggal 5 Safar tahun 1044 H. Beliau di besarkan di Kota Tarim dan di saat beliau berumur 4 tahun, beliau terkena penyakit cacar sehingga menyebabkan kedua mata beliau tidak dapat melihat. Baca Juga : Hadist Tentang Ikhlas Meskipun kedua mata beliau tidak dapat melihat sejak usia dini, beliau tetap tidak memutuskan gairahnya untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan mengisi masa kecilnya dengan berbagai macam ibadah dan bertaqarrub kepada Allah SWT, sehingga mulai dari sejak usia dini, hidupnya sangat berkah dan berguna. Sepanjang hidupnya beliau jalani dengan amal sholeh dan seluruh aspek kehidupannya selalu meniru apa yang diajarkan Rasulullah SAW. beliau adalah ulama dan wali besar dan menyandang gelar wali qutub terlama. 

Imam Abdullah Al Haddad dianggap sebagai salah satu ulama besar yang paling berpengaruh. kebanyakan ulama di seluruh dunia hingga kini selalu berkiblat pada pemikiran beliau dan selalu menjadikan kitab beliau menjadi rujukan utama dalam mengkaji setiap masalah agama. Beliau Imam Haddad adalah seorang ulama dalam bidang fikih dan aqidah asy'ariyah, Ia mendapatkan gelar Syaikh al-Islam, Quthb ad-Da'wah wa al-Irsyad dan dikenal sebagai Pembaharu Tarekat Alawiyyah. ilmunya seluas samudra sehingga sampai zaman sekarang ini pun umat islam masih memperoleh manfaatnya yang berasal dari karya karya beliau. 

Nasab dan Silsilah Habib Abdullah Alhaddad Beliau adalah seorang Imam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Ahmad bin Abu Bakar Al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrohman bin Alwy bin Muhammad Shôhib Mirbath bin Ali Khôli’ Qosam bin Alwi bin Muhammad Shôhib Shouma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhâjir Ilallôh Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqîb bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Jakfar Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib suami Az-Zahro Fathimah Al-Batul binti Rosulullah Muhammad SAW. Orang Tua Habib Abdullah Al-Haddad Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad, Ayah Syaikh Abdullah Al-Haddad dikenal sebagai seorang yang saleh. Lahir dan tumbuh di kota Tarim, Sayyid Alwy, sejak kecil berada di bawah asuhan ibunya Syarifah Salwa, yang dikenal sebagai wanita ahli ma’rifah dan wilayah. Bahkan Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad sendiri banyak meriwayatkan kekeramatannya. Kakek Al-Haddad dari sisi ibunya ialah Syaikh Umar bin Ahmad Al-Manfar Ba Alawy yang termasuk ulama yang mencapai derajat ma’rifah sempurna. Suatu hari Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad mendatangi rumah Al-Arif Billah Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Habsy, pada waktu itu ia belum berkeluarga, lalu ia meminta Syaikh Ahmad Al-Habsy mendoakannya, lalu Syaikh Ahmad berkata kepadanya, ”Anakmu adalah anakku, di antara mereka ada keberkahan”. Kemudian ia menikah dengan cucu Syaikh Ahmad Al-Habsy, Salma binti Idrus bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Al-Habib Idrus adalah saudara dari Al-Habib Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Yang mana Al-Habib Husein ini adalah kakek dari Al-Arifbillah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy (Mu’alif Simtud Durror). Maka lahirlah dari pernikahan itu Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad. Ketika Syaikh Al-Hadad lahir ayahnya berujar, “Aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat yang ducapkan Syaikh Ahmad Al-Habsy terdahulu, setelah lahirnya Abdullah, aku baru mengerti, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar Al-wilayah (kewalian)”. Guru guru Imam Haddad - al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H). - al-Habib Muhammad bin ‘Alawi bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf (1002 – 1071H) - Syaikh Abu Bakar bin bin Imam ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Abu Bakar bin Syaikh ‘Abdurrahman al-Saqqaf - al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf - al-Habib ‘Abdurrahman bin Syaikh Maula ‘Aidid Ba’alawi (wafat: 1068H) - Sayyid Syaikhan bin Imam al-Hussein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim - al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim - al-Habib Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Syaikh al-Arifbillah Ahmad bin Syaikh al-Hussein bin Syaikh al-Quthb al-Rabbani Abu Bakar bin Abdullah al-‘Aydrus (1035-1112H) - Sayyid al-Faqih al-Shufi Abdullah bin Ahmad Ba`alawi al-Asqa’ - Sayyid Syaikh al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi (wafat 1071H) Imam Abdullah al-Haddad رضي الله عنه juga menerima khirqah sufiyyah, antaranya daripada: - al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf, - al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H), - al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim, - al-‘Arifbillah Syaikh Muhammad bin ‘Alawi as-Saqqaf al-Makki Murid Murid Habib Abdullah Al Haddad - al-Habib Hasan bin ‘Abdullah al-Haddad (anak beliau); - al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi; - al-Habib ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Balfaqih; - al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith; - al-Habib ‘Umar bin Zein bin Smith; - al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-Bar; - al-Habib ‘Ali bin ‘Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf; - al-Habib Muhammad bin ‘Umar bin Thoha ash-Shafi al-Saqqaf; - Syaikh Ahmad bin Abdul Karim al-Hasawi asy-Syajjar - Al-Faqih BaJubair Masa Kecil Dari semenjak kecil begitu banyak perhatian yang beliau dapatkan dari Allah. Allah menjaga pandangan beliau dari segala apa yang diharomkan. Penglihatan lahiriah Beliau diambil oleh Allah dan diganti oleh penglihatan batin yang jauh yang lebih kuat dan berharga. Yang mana hal itu merupakan salah satu pendorong beliau lebih giat dan tekun dalam mencari cahaya Allah menuntut ilmu agama. Pada umur 4 tahun beliau terkena penyakit cacar sehingga menyebabkannya buta. Cacat yang beliau derita telah membawa hikmah, beliau tidak bermain sebagaimana anak kecil sebayanya, beliau habiskan waktunya dengan menghapal Al-Quran, mujahaddah al-nafs (beribadah dengan tekun melawan hawa nafsu) dan mencari ilmu. Sungguh sangat mengherankan seakan-akan anak kecil ini tahu bahwa ia tidak dilahirkan untuk yang lain, tetapi untuk mengabdi kepada Allah SWT. Kalam Habib Abdullah al-Haddad Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya sering melakukan perjalanan untuk menemui kaum ulama. Beliau ra berkata, “Apa kalian kira aku mencapai ini dengan santai? Tidak tahukah kalian bahwa aku berkeliling ke seluruh kota-kota (di Hadramaut) untuk menjumpai kaum sholihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka?” Beliau juga sangat giat dalam mengajarkan ilmu dan mendidik murid-muridnya. Banyak penuntut ilmu datang untuk belajar kepadanya. Suatu hari beliau berkata, “Dahulu aku menuntut ilmu dari semua orang, kini semua orang menuntut ilmu dariku.” “Andaikan penghuni zaman ini mau belajar dariku, tentu akan kutulis banyak buku mengenai makna ayat-ayat Quran. Namun, di hatiku ada beberapa ilmu yang tak kutemukan orang yang mau menimbanya.” Habib Abdullah mengamati bahwa kemajuan zaman justru membuat orang-orang saleh menyembunyikan diri; membuat mereka lebih senang menyibukkan diri dengan Allah. “Zaman dahulu keadaannya baik. “Dagangan” kaum sholihin dibutuhkan masyarakat, oleh karena itu mereka menampakkan diri. Zaman ini telah rusak, masyarakat tidak membutuhkan “dagangan” mereka, karena itu mereka pun enggan menampakkan diri,” papar beliau. Beliau sangat menyayangi kaum fakir miskin. “Andaikan aku kuasa dan mampu, tentu akan kupenuhi kebutuhan semua kaum fakir miskin. Sebab pada awalnya, agama ini ditegakkan oleh orang-orang mukmin yang lemah.” Beliau juga berkata, “Dengan sesuap (makanan) tertolaklah berbagai bencana.” Beliau gemar berdakwah, baik dengan lisan maupun tulisan, kemudian mencontohkannya dalam amal perbuatan. Kegemarannya berdakwah menyebabkan ia banyak bergaul dan melakukan perjalanan. “Sesungguhnya aku tidak ingin bercakap-cakap dengan masyarakat, aku juga tidak menyukai pembicaraan mereka, dan tidak peduli kepada siapa pun dari mereka. Sudah menjadi tabiat dan watakku bahwa aku tidak menyukai kemegahan dan kemasyhuran. Aku lebih suka berkelana di gurun Sahara. Itulah keinginanku; itulah yang kudambakan. Namun, aku menahan diri tidak melaksanakan keinginanku agar masyarakat dapat mengambil manfaat dariku.” Keaktifannya dalam mendidik dan berdakwah membuatnya digelari Quthbud Da’wah wal Irsyâd. Beliau berkata, “Ajaklah orang awam kepada syariat dengan bahasa syariat; ajaklah ahli syariat kepada tarekat (thorîqoh) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat kepada hakikat (haqîqoh) dengan bahasa hakikat; ajaklah ahli hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah ahlul haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.” Dalam kehidupannya, beliau juga sering mendapat gangguan dari masyarakat lingkungannya. “Kebanyakan orang jika tertimpa musibah penyakit atau lainnya, mereka tabah dan sabar; sadar bahwa itu adalah qodho dan qodar Allah. Tetapi jika diganggu orang, mereka sangat marah. Mereka lupa, bahwa gangguan-ganguan itu sebenarnya juga merupakan qodho dan qodar Allah, mereka lupa bahwa sesungguhnya Allah hendak menguji dan menyucikan jiwa mereka. Nabi saw bersabda, “Besarnya pahala tergantung pada beratnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Ia akan menguji mereka. Barang siapa ridho, ia akan memperoleh keridhoan-Nya; barang siapa tidak ridho, Allah akan murka kepadanya.” Habib Abdullah mengetahui bahwa ada beberapa orang yang memakan hidangannya, tetapi juga memakinya. “Perbuatan mereka tidak mempengaruhi sikapku. Aku tidak marah kepada mereka, bahkan mereka kudoakan.” Habib Abdullah tidak pernah menyakiti hati orang lain, apabila beliau terpaksa harus bersikap tegas, beliau kemudian segera menghibur dan memberikan hadiah kepada orang yang ditegurnya. “Aku tak pernah melewatkan pagi dan sore dalam keadaan benci atau iri pada seseorang,” kata Habib Abdullah. Beliau lebih suka berpegang pada hadis Nabi saw: “Orang beriman yang bergaul dengan masyarakat dan sabar menanggung gangguannya, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak pula sabar menghadapi gangguannya.” Beliau menulis dalam syairnya: Bila Allah mengujimu, bersabarlah karena itu hak-Nya atas dirimu. Dan bila Ia memberimu nikmat, bersyukurlah. Siapa pun mengenal dunia, pasti akan yakin bahwa dunia tak syak lagi adalah tempat kesengsaraan dan kesulitan. Habib Abdullah tidak menyukai kemasyhuran atau kemegahan, beliau juga tidak suka dipuji. “Banyak orang membuat syair-syair untuk memujiku. Sesungguhnya aku hendak mencegah mereka, tetapi aku khawatir tidak ikhlas dalam berbuat demikian. Jadi, kubiarkan mereka berbuat sekehendaknya. Dalam hal ini aku lebih suka meneladani Nabi saw, karena beliau pun tidak melarang ketika sahabatnya membacakan syair-syair pujian kepadanya.” Suatu hari beliau berkata kepada orang yang melantunkan qoshidah pujian untuk beliau, “Aku tidak keberatan dengan semua pujian ini. Yang ada padaku telah kucurahkan ke dalam samudra Muhammad saw. Sebab, beliau adalah sumber semua keutamaan, dan beliaulah yang berhak menerima semua pujian. Jadi, jika sepeninggal beliau ada manusia yang layak dipuji, maka sesungguhnya pujian itu kembali kepadanya. Adapun setan, ia adalah sumber segala keburukan dan kehinaan. Karena itu setiap kecaman dan celaan terhadap keburukan akan terpulang kepadanya, sebab setanlah penyebab pertama terjadinya keburukan dan kehinaan.” Beliau tak pernah bergantung pada makhluk dan selalu mencukupkan diri hanya dengan Allah. “Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanan-Nya.” Beliau juga berkata, “Aku tidak melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku menganggap orang itu hanyalah perantara saja.” Nasehat dan Wasiat Imam Abdullah Al haddad “Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah SWT. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya.” “Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku mrnganggap orang itu hanyalah perantara saja,” “Andaikan aku kuasa dan mampu, tentu akan kupenuhi kebutuhan semua kaum faqir miskin. Sebab pada awalnya, agama ini ditegakkan oleh kaum Mukminin yang lemah.” “Dengan sesuap makanan tertolaklah bencana.” “Sesungguhnya aku tidak ingin bercakap-cakap dengan masyarakat, aku juga tidak menyukai pembicaraan mereka, dan tidak peduli kepada siapapun dari mereka. Sudah menjadi tabiat dan watakku bahwa aku tidak menyukai kemegahan dan kemasyhuran. Aku lebih suka berkelana di gurun sahara. Itulah keinginanku; itulah yang kudambakan. Namun, aku menahan diri tidak melaksanakan keinginanku agar masyarakat dapat mengambil manfaat dariku.” "Kebanyakan orang, jika tertimpa musibah penyakit atau lainnya, mereka tabah dan sabar; mereka sadar bahwa itu adalah qodho dan qodar Allah SWT. Tetapi jika diganggu orang, mereka sangat marah. Mereka lupa bahwa gangguan-gangguan itu sebenarnya juga qodho dan qodar Allah SWT, mereka lupa bahwa sesungguhnya Allah SWT hendak menguji dan menyucikan jiwa mereka. Rasulullah bersabda :  “Besarnya pahala tergantung pada beratnya ujian. Jika Allah SWT mencintai suatu kaum, ia akan menguji mereka. Barang siapa ridho, ia akan memperoleh keridhoannya; barang siapa tidak ridho, Allah SWT akan murka kepadanya.” ( HR Thabrani dan Ibnu Majah ) “Ajaklah orang awam kepada syariat dengan bahasa syariat; ajaklah ahli syariat kepada tarekat ( thariqah ) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat kepada hakikat ( haqiqah ) dengan bahasa hakikat, ajaklah ahli hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah ahlul Haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.” "Beramallah sebanyak mungkin dan pilihlah amal yang dapat kamu kerjakan secara berkesinambungan ( mudawamah ). Jangan remehkan satu amal pun yang pernah kau kerjakan. Sebab setelah Imam Ghazali wafat, seseorang bermimpi bertemu dengannya dan bertanya, "Bagaimana Allah swt memperlakukanmu?" "Dia mengampuniku" jawab Imam Ghazali. "Amal apa yang menyebabkan Allah swt mengampunimu?" "Suatu hari, ketika aku sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat hinggap di penaku. Kubiarkan ia minum tinta itu hingga puas." Ketahuilah! Amal yang bernilai tinggi adalah amal yang dianggap kecil dan dipandang remeh oleh nafsu. Adapun amal yang dipandang mulia dan bernilai oleh nafsu, pahalanya dapat sirna, baik karena pelakunya, amalnya itu sendiri ataupun karena orang lain yang berada sekitarnya." "di zaman ini kita harus berhati-hati, sebab zaman ini adalah zaman syubhat. Para Ulama menyatakan, tidak sepatutnya seorang yang berilmu bingung membedakan yang baik dan buruk. Sebab, kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang sangat jelas, setiap orang dapat membedakannya. Seorang berilmu ketika harus memilih satu diantara dua kebaikan atau dua keburukan, maka dia akan memilih kebaikan yang terbaik dan meninggalkan keburukan yang terburuk. Sebagai contoh, jika ada seseorang ingin melukaimu dengan tongkat atau pisau, dank au tidak dapat menghindarinya, maka terluka oleh tongkat lebih ringan. Atau ada seseorang tidak mampu berjalan, sedangkan kau mampu. Jika kau turun dari hewan tungganganmu dan menyuruhnya naik, maka itu lebih baik daripada engkau boncengkan dia, meskipun kedua-duanya baik. Begitulah keadaan kami di zaman ini. Memilih yang terbaik dari dua kebaikan dan meninggalkan yang terburuk dari dua keburukan merupakan salah satu kaidah agama yang disampaikan oleh para salaf seperti Imam Malik bin Anas dan Ulama lainnya. Semoga Allah swt meridhai mereka semua. Barangsiapa tidak mengetahui akidah ini, maka dia adalah seorang yang bodoh. Jika dia tidak mengetahui kaidah ini dan memandang dirinya sebagai seorang yang berilmu, maka dia adalah seorang yang teramat bodoh. Dia seperti seorang kikir yang merasa dirinya sebagai seorang dermawan. Orang seperti ini adalah orang teramat kikir." "Persahabatan, pertemanan dan pergaulan memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk membuat seseorang menjadi baik maupun buruk. Persahabatan dan pergaulan dengan orang-orang shaleh dan berbudi membawa manfaat, sedangkan persahabatan dan pertemanan dengan orang-orang fasik dan durhaka membawa bahaya. Hanya saja manfaat persahabatab dengan orang shaleh atau bahaya pergaulan dengan pendurhaka tersebut terkadang tidak tampak secara langsung, akan tetapi secara bertahap dan setelah berlangsung lama. “Setan lebih bersemangat untuk menyesatkan orang yang berilmu ketimbang orang bodoh, sebab jika seorang berilmu yang tersesat akan menyesatkan orang lain. Sedangkan orang bodoh yang tersesat tidak akan menyesatkan orang lain” “Barangsiapa di kala senang suka memujimu dengan kebaikan yang tidak pernah kau lakukan, maka saat marah nanti dia pasti akan mencelamu dengan keburukan yang tidak pernah kau lakukan” “Seseorang yang meremehkan sesuatu perkara merupakan tanda bahwa dia akan meninggalkannya” “Barangsiapa suka dipuji dengan kebaikan yang tidak dimilikinya dan tidak suka dicela dengan keburukan yang dilakukannya, sehingga ia menyukai orang yang memujinya dan membenci orang yang mencelanya, maka dia seorang yang teramat sangat bodoh” “Di dunia ini tidak ada makhluk yang lebih bodoh dari seseorang yang mengetahui sesuatu yang baik tetapi dia tidak mengrjakannya dan mengetahui yang buruk tetapi justru melakukannya” “Salah satu dosa besar yang bersifat dhohir adalah jika engkau mengharapkan dari teman-temanmu dunia sedangkan mereka mengharapkan darimu akhirat” “Jika engkau ingin menjadi manusia yang merdeka (tidak diperbudak oleh sesuatu), maka tinggalkanlah segala sesuatu yang jika tidak kau tinggalkan dengan sukarela, kelak akan kamu tinggalkan secara paksa” “Biarkan anak-anak menghabiskan semua keinginannya untuk bermain-main sekarang, selagi ia masih berada dalam usia untuk bermain-main. Jika hal ini tidak dilakukan, maka kelak (saat dewasa) ia akan kembali bermain-main pada saat yang seharusnya ia tidak patut bermain-main” “Betapa sering sesuatu (amal) yang sedikit menjadi bernilai banyak karena niat yang baik dan betapa sering sesuatu (amal) yang banyak menjadi sedikit (nilainya) karena niat yang buruk” “Jika engkau berdoa, memohonlah agar sesuatu itu terwujud di saat yang terbaik dengan selamat dan lembut” “Salah satu keburukan yang terdapat pada manusia zaman ini adalah mereka lebih suka mencontoh kekurangan atau keburukan sesorang daripada meneladani kebaikan dan keindahan budinya” “Tidak akan merasakan nikmatnya membaca Al-Qur`an kecuali dia yang memiliki mata hati yang jernih dan bercahaya” “Amal yang bernilai tinggi adalah amal yang dianggap kecil dan dipandang remeh oleh nafsu. Adapun amal yang dipandang mulia dan bernilai oleh nafsu, pahalanya dapat sirna, baik karena pelakunya, amalnya itu sendiri ataupun karena orang lain yang berada di sekitarnya” “Salah satu bentuk tipu daya setan yang sangat halus adalah ia berupaya menjauhkanmu dari sebuah kebaikan dengan menyibukkan dirimu untuk melakukan kebaikan lain di saat engkau sedang melakukan sebuah kebaikan, sehingga engkau tidak dapat melakukan kebaikan yang pertama tadi dengan sempurna” “Jika seorang hamba merasakan dalam dirinya terdapat ajakan untuk melakukan ketaatan dan seruan untuk membenci kemaksiatan, maka hatinya bercahaya” “Orang yang berperangai buruk adalah sesorang yang kendati kamu santuni, kamu senagnkan hatinya dan berlemah lembut kepadanya, maka ia tetap tidak akan pernah merasa puas (tidak akan pernah merasa senang), bahkan ia selalu marah kepadamu” “Jangan sekali-kali engkau meminta suatu jabatan kepemimpinan. Sebab jika engkau peroleh jabatan itu atas permintaanmu, maka ia akan dibebankan kepadamu. Namun jika jabatan itu engkau peroleh tanpa permintaan darimu, niscaya Allah akan memberi pertolongan-Nya kepadamu” Aktifitas Dakwah Imam Haddad Berkat ketekunan dan akhlakul karimah yang beliau miliki pada saat usia yang sangat dini, beliau dinobatkan oleh Allah dan guru-guru beliau sebagai da’i, yang menjadikan nama beliau harum di seluruh penjuru wilayah Hadhromaut dan mengundang datangnya para murid yang berminat besar dalam mencari ilmu. Mereka ini tidak datang hanya dari Hadhromaut tetapi juga datang dari luar Hadhromaut. Mereka datang dengan tujuan menimba ilmu, mendengar nasihat dan wejangan serta tabarukan (mencari berkah), memohon doa dari Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Di antara murid-murid senior Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah putranya, Al-Habib Hasan bin Abdullah bin Alwy Al-Haddad, Al-Habib Ahmad bin Zein bin Alwy bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy, Al-Habib Ahmad bin Abdullah Ba-Faqih, Al-Habib Abdurrohman bin Abdullah Bilfaqih, dll. Selain mengkader pakar-pakar ilmu agama, mencetak generasi unggulan yang diharapkan mampu melanjutkan perjuangan kakek beliau, Rosullullah SAW, beliau juga aktif merangkum dan menyusun buku-buku nasihat dan wejangan baik dalam bentuk kitab, koresponden (surat-menyurat) atau dalam bentuk syair sehingga banyak buku-buku beliau yang terbit dan dicetak, dipelajari dan diajarkan, dibaca dan dialihbahasakan, sehingga ilmu beliau benar-benar ilmu yang bermanfaat. Tidak lupa beliau juga menyusun wirid-wirid yang dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat untuk agama, dunia dan akhirat, salah satunya yang agung dan terkenal adalah Ratib ini. Rotib ini disusun oleh beliau dimalam Lailatul Qodar tahun 1071 H. Akhlaq dan Budi Pekerti Habib Abdullh Haddad Al-Imam Al-Haddad (rahimahullah) memiliki perwatakan badan yang tinggi, berdada bidang, tidak terlalu gempal, berkulit putih, sangat berhaibah. Wajahnya sentiasa manis dan menggembirakan orang lain di dalam majlisnya. Ketawanya sekadar senyuman manis; apabila beliau gembira dan girang, wajahnya bercahaya bagaikan bulan. Majlis kendalian beliau sentiasa tenang dan penuh kehormatan sehinggakan tidak terdapat hadhirin berbicara mahupun bergerak keterlaluan bagaikan terletak seekor burung di atas kepala mereka. Mereka yang menghadhiri ke majlis Al-Habib bagaikan terlupa kehidupan dunia bahkan terkadang Si-lapar lupa hal kelaparannya; Si-sakit hilang sakitnya; Si-demam sembuh dari demamnya. Ini dibuktikan apabila tiada seorang pun yang yang sanggup meninggalkan majlisnya. Al-Imam sentiasa berbicara dengan orang lain menurut kadar akal mereka dan sentiasa memberi hak yang sesuai dengan taraf kedudukan masing-masing. Sehinggakan apabila dikunjungi pembesar, beliau memberi haknya sebagai pembesar; kiranya didatangi orang lemah, dilayani dengan penuh mulia dan dijaga hatinya. Apatah lagi kepada Si-miskin. Beliau amat mencintai para penuntut ilmu dan mereka yang gemar kepada alam akhirat. Al-Habib tidak pernah jemu terhadap ahli-ahli majlisnya bahkan sentiasa diutamakan mereka dengan kaseh sayang serta penuh rahmah; tanpa melalaikan beliau dari mengingati Allah walau sedetik. Beliau pernah menegaskan “Tiada seorang pun yang berada dimajlisku mengganguku dari mengingati Allah”. Majlis Al-Imam sentiasa dipenuhi dengan pembacaan kitab-kitab yang bermanfaat, perbincangan dalam soal keagamaan sehingga para hadhirin sama ada yang alim ataupun jahil tidak akan berbicara perkara yang mengakibatkan dosa seperti mengumpat ataupun mencaci. Bahkan tidak terdapat juga perbicaraan kosong yang tidak menghasilkan faedah. Apa yang ditutur hanyalah zikir, diskusi keagamaan, nasihat untuk muslimin, serta rayuan kepada mereka dan selainnya supaya beramal soleh. Inilah yang ditegaskan oleh beliau “Tiada seorang pun yang patut menyoal hal keduniaan atau menyebut tentangnya kerana yang demikian adalah tidak wajar; sewajibnya masa diperuntuk sepenuhnya untuk akhirat sahaja. Silalah bincang perihal keduniaan dengan selain dariku.” Al-Habib (rahimahullah) adalah contoh bagi insan dalam soal perbicaraan mahupun amalan; mencerminkan akhlak junjungan mulia dan tabiat Al-Muhammadiah yang mengalir dalam hidup beliau. Beliau memiliki semangat yang tinggi dan azam yang kuat dalam hal keagamaan. Al-Imam juga sentiasa menangani sebarang urusan dengan penuh keadilan dengan menghindari pujian atau keutamaan dari oramg lain; bahkan beliau sentiasa mempercepatkan segala tugasnya tanpa membuang masa. Beliau bersifat mulia dan pemurah lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan.  Ciri inilah menyebabkan ramai orang dari pelusuk kampung sering berbuka puasa bersama beliau di rumahnya dengan hidangan yang tidak pernah putus semata mata mencari barakah Al-Imam. Al-Imam menyatakan “Sesuap makanan yang dihadiahkan atau disedekahkan mampu menolak kesengsaraan”. Katanya lagi “Kiranya ditangan kita ada kemampuan, nescaya segala keperluan fakir miskin dipenuhi, sesungguhnya permulaan agama ini tidak akan terdiri melainkan dengan kelemahan Muslimin”. Beliau adalah seorang yang memiliki hati yang amat suci, sentiasa sabar terhadap sikap buruk dari yang selainnya serta tidak pernah merasa marah. Kalaupun ia memarahi, bukan kerana peribadi seseorang tetapi sebab amalan mungkarnya yang telah membuat Al-Imam benar-benar marah. Inilah yang ditegaskan oleh Al-Habib“Adapun segala kesalahan berkait dengan hak aku, aku telah maafkan; tetapi hak Allah sesungguhnya tidak akan dimaafkan”. Al-Imam amatlah menegah dari mendoa’ agar keburukan dilanda orang yang menzalimi mereka. Sehingga bersama beliau terdapat seorang pembantu yang terkadangkala melakukan kesilapan yang boleh menyebabkan kemarahan Al-Imam. Namun beliau menahan marahnya; bahkan kepada si-Pembantu itu diberi hadiah oleh Al-Habib untuk meredakan rasa marah beliau sehinggakan pembantunya berkata:“alangkah baiknya jika Al-Imam sentiasa memarahiku”. Segala pengurusan hidupnya berlandaskan sunnah; kehidupannya penuh dengan keilmuan ditambah pula dengan sifat wara’. Apabila beliau memberi upah dan sewa sentiasa dengan jumlah yang lebih dari asal tanpa diminta. Kesenangannya adalah membina dan mengimarahkan masjid. Di Nuwaidarah dibinanya masjid bernama Al-Awwabin begitu juga, Masjid Ba-Alawi di Seiyoun, Masjid Al-Abrar di As-Sabir, Masjid Al-Fatah di Al-Hawi, Masjid Al-Abdal di Shibam, Masjid Al-Asrar di Madudah dan banyak lagi. Diantara sifat Al-Imam termasuk tawaadu’ (merendah diri). Ini terselah pada kata-katanya, syair-syairnya dan tulisannya. Al-Imam pernah mengutusi Al-Habib Ali bin Abdullah Al-Aidarus. “Doailah untuk saudaramu ini yang lemah semoga diampuni Allah” Karomah Imam Haddad Adapun karamah yang diberikan kepada al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad cukup banyak, sehingga kalau diungkapkan satu persatunya, maka akan membutuhkan waktu yang panjang. Sehingga kami hanya mengungkapkan sebagian kecil saja, seperti yang dapat di baca di bawah ini: Seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah berkata: “Pada suatu kali aku terlilit hutang yang banyak dan aku tidak dapat melunasinya, karena aku tidak mempunyai uang. Ketika aku menyampaikan keluhanku kepada al-Habib Abdullah al-Haddad, maka beliau berkata: ‘Semoga esok pagi semua hutangmu dapat terlunasi.’ Ternyata keesokan paginya, ada seorang lelaki memberiku sepuluh potong pakaian.Setelah aku menerimanya, kemudian akupun menjualnya, maka aku mendapat keuntungan yang lebih besar dari jumlah hutangku, semua itu adalah berkah karamah al-Habib Abdullah al-Haddad.” Salah satu sahabat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Salah seorang yang sangat cinta kepada al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: ‘Aku pernah dirampok sampai semua hartaku habis. Maka akupun mendatangi al-Habib Abdullah untuk meminta tolong dan minta do’a. Ketika aku akan pamitan, maka ia berkata kepadaku, semoga engkau mendapat ganti yang lebih bagus daripada hartamu yang dirampok. Tetapi bacalah setiap paginya ‘YA RAZZAK’ sebanyak tiga ratus delapan puluh kali dan do’a sebagai berikut sebanyak empat kali: “Allahumma Aghninii Bichalaalika ‘An Charaamika, Wa Bithaa’atika ‘An Ma’shiyatika Wa Bifadhlika ‘Amman Siwaak.” Maka dengan izin Allah SWA, lelaki itu kembali dalam keadaan yang lebih baik, karena hidupnya lebih baik dan hutang-hutangnya sudah terlunasi. Ia termasuk seorang yang shaleh, bertakwa dan wara’. Ia banyak mengerjakan amal-amal kebajikan, terutama saedekah. Ia sangat yakin kepada al-Habib Abdullah dan kepada orang-orang shaleh. Ia wafat di Kota Syibam pada tahun empat puluh. Semoga Allah SWT merahmatinya dan menempatkannya di surga-Nya yang sangat luas.” Selain itu, asy-Syeikh Abdullah Syarahil menceritakan kisah asy-Syeikh Umar Bahmid sebagai berikut: “Ada seorang datang mengadu kepada al-Habib Abdullah tentang sakit perut dan darah yang banyak keluar dari duburnya, dan ketika itu aku ada di sisinya. Maka al-Habib Abdullah berkata kepadaku: “Wahai Bahmid, obatilah orang ini.” Maka aku memegang perutnya, kemudian aku meniupnya. Maka penyakit orang itu sembuh pada waktu itu juga. Kemudian penyakit orang itu berpindah kepadaku, sampai aku mengeluh kepada al-Habib Abdullah. Kemudian beliau memberi makanan kepadaku sambil mengusap perutku dengan tangannya yang mulia, maka dengan izin Allah SWT penyakitku segera sembuh pada waktu itu juga.” Asy-Syeikh Abdullah Syarahil menuturkan, bahwa al-Habib Ahmad berkata kepadaku: “Aku diberitahu oleh al-Habib Ahmad, bahwa al-Habib Abdullah al-Haddad berkata kepadanya: “Aku melihat ada seorang yang mengeluh sakit gigi dan ia minta do’a kesembuhan darimu.” Maka aku berkata kepadanya: “Mengapa orang itu meminta do’a kepadaku, padahal engkau masih ada di dekatnya?” Lalu al-Habib Abdullah mengatakan kepadaku: “Laksanakan saja perintahku.” “Lalu akupun segera melaksanakan perintahnya, hingga penyakit orang itu sembuh, tetapi rasa sakitnya berpindah pada diriku. Ketika aku menghadap kepada al-Habib Abdullah, maka beliau memberitahuku: “Pdnyakit orang itu sudah sembuh, tetapi rasa sakitnya pindah kepadamu.” “Memang aku merasakan sakitnya orang itu, namun segera hilang dengan berkahnya,” katanya. Selain itu masih ada lagi kisah karamah yang dialami oleh al-Habib Abdullah sebagai berikut: “Disebutkan bahwa ketika al-Habib Abdullah pergi menunaikan ibadah haji, maka ada seekor unta yang melompat-lompat karena emosi, sehingga tidak seorangpun yang berani mendekati dan menungganginya, karena lompatannya sangat keras. Ketika al-Habib Abdullah diberitahu tentang masalah itu, maka beliau mendatangi unta itu dan meletakkan tangannya di lehernya, maka dengan izin Allah SWT, maka unta itu menundukkan kepala kepadanya.” Salah seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Aku diberitahu oleh salah seorang murid yang selalu mengikuti al-Habib Abdullah al-Haddad: “Pada suatu hari aku keluar untuk mengunjungi seorang syeikh yang dikenal oleh penduduk Kota Tarim dengan nama asy-Syeikh Maula ar-Rakah, dan aku kesana tanpa memberitahu kepada al-Habib Abdullah lebih dahulu, sehingga aku kesana dalam keadaan demam yang sangat keras. Aku berkata dalam diriku sendiri: “Mungkin penyakitku ini disebabkan aku tidak memberitahu kepada al-Habib Abdullah terlebih dahulu.” Ketika aku mendatangi al-Habib Abdullah dan mengeluh kepadanya, maka al-Habib Abdullah mengusap badanku dengan tangannya yang mulia. Dengan izin Allah dan berkah al-Habib Abdullah penyakitku segera sembuh dan tidak meninggalkan bekas apapun pada tubuhku.” Imam Haddad Sebagai Mujaddid Abad ke 11 H Penganut Mazhab Syafi’i, khususnya di Yaman, berkeyakinan bahwa Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad adalah Mujaddid ( pembaharu )abad 11 H. pendapat ini diutarakan oleh Ibnu Ziyad, seorang Ahli Fiqih terkemuka di Yaman yang fatwa-fatwanya disejajarkan dengan tokoh-tokoh Fiqih seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli. Seseorang pernah menggambarkan kedudukan beliau dengan ungkapan yang indah,yaitu: ”Dalam Dunia Tasawuf Imam Ghazali ibarat pemintal kain, Imam Sya’rani ibarat tukang potong dan Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad adalah penjahitnya.” Beberapa Ulama memberinya beberapa gelar, seperti : • Syaikhul Islam ( Rujukan utama keislaman ) • Fardul A’lam ( Orang teralim ) • Al-Quthbul Ghauts ( Wali tertinggi yang bisa menjadi wasilah pertolongan ) • Al-Quthbud Da’wah wal-Irsyad ( Wali Tertinggi yang memimpin Dakwah ) Wafatnya Habib Abdullah Alhaddad Beliau wafat hari Senin, malam Selasa, tanggal 7 Dhul-Qo’dah 1132 H, dalam usia 98 tahun. Beliau disemayamkan di pemakaman Zambal, di Kota Tarim, Hadhromaut, Yaman. Semoga Allah melimpahkan rohmat-Nya kepada beliau juga kita yang ditinggalkannya. Habib Abdullah Al Haddad dimata Para Ulama Al-Arifbillah Quthbil Anfas Al-Imam Habib Umar bin Abdurrohman Al-Athos ra. mengatakan, “Al-Habib Abdullah Al-Haddad ibarat pakaian yang dilipat dan baru dibuka di zaman ini, sebab beliau termasuk orang terdahulu, hanya saja ditunda kehidupan beliau demi kebahagiaan umat di zaman ini (abad 12 H)”. Al-Imam Arifbillah Al-Habib Ali bin Abdullah Al-Idrus ra. mengatakan, “Sayyid Abdullah bin Alwy Al-Haddad adalah Sultan seluruh golongan Ba Alawy”. Al-Imam Arifbillah Muhammad bin Abdurrohman Madehej ra. mengatakan, “Mutiara ucapan Al-Habib Abdullah Al-Haddad merupakan obat bagi mereka yang mempunyai hati cemerlang sebab mutiara beliau segar dan baru, langsung dari Allah SWT. Di zaman sekarang ini kamu jangan tertipu dengan siapapun, walaupun kamu sudah melihat dia sudah memperlihatkan banyak melakukan amal ibadah dan menampakkan karomah, sesungguhnya orang zaman sekarang tidak mampu berbuat apa-apa jika mereka tidak berhubungan (kontak hati) dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebab Allah SWT telah menghibahkan kepada beliau banyak hal yang tidak mungkin dapat diukur.” Al-Imam Abdullah bin Ahmad Bafaqih ra. mengatakan, “Sejak kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad bila matahari mulai menyising, mencari beberapa masjid yang ada di kota Tarim untuk sholat sunnah 100 hingga 200 raka’at kemudian berdoa dan sering membaca Yasin sambil menangis. Al-Habib Abdullah Al-Haddad telah mendapat anugrah (fath) dari Allah sejak masa kecilnya”. Sayyid Syaikh Al-Imam Khoir Al-Diin Al-Dzarkali ra. menyebut Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai fadhillun min ahli Tarim (orang utama dari Kota Tarim). Al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith ra. berkata, “Masa kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah masa kecil yang unik. Uniknya semasa kecil beliau sudah mampu mendiskusikan masalah-masalah sufistik yang sulit seperti mengaji dan mengkaji pemikiran Syaikh Ibnu Al-Faridh, Ibnu Aroby, Ibnu Athoilah dan kitab-kitab Al-Ghodzali. Beliau tumbuh dari fitroh yang asli dan sempurna dalam kemanusiaannya, wataknya dan kepribadiannya”. Al-Habib Hasan bin Alwy bin Awudh Bahsin ra. mengatakan, “Bahwa Allah telah mengumpulkan pada diri Al-Habib Al-Haddad syarat-syarat Al-Quthbaniyyah.” Al-Habib Abu Bakar bin Said Al-Jufri ra. berkata tentang majelis Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai majelis ilmu tanpa belajar (ilmun billa ta’alum) dan merupakan kebaikan secara menyeluruh. Dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan, “Aku telah berkumpul dengan lebih dari 40 Waliyullah, tetapi aku tidak pernah menyaksikan yang seperti Al-Habib Abdullah Al-Haddad dan tidak ada pula yang mengunggulinya, beliau adalah Nafs Rohmani, bahwa Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah asal dan tiada segala sesuatu kecuali dari dirinya.” Seorang guru Masjidil Harom dan Nabawi, Syaikh Syihab Ahmad al-Tanbakati ra. berkata, “Aku dulu sangat ber-ta’alluq (bergantung) kepada Sayyidi Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Kadang-kadang dia tampak di hadapan mataku. Akan tetapi setelah aku ber-intima’ (condong) kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad, maka aku tidak lagi melihatnya. Kejadian ini aku sampaikan kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau berkata,’Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani di sisi kami bagaikan ayah. Bila yang satu ghoib (tidak terlihat), maka akan diganti dengan yang lainnya. Allah lebih mengetahui.’ Maka semenjak itu aku ber-ta’alluq kepadanya.” Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi ra. seorang murid Al-Habib Abdullah Al-Haddad yang mendapat mandat besar dari beliau, menyatakan kekagumannya terhadap gurunya dengan mengatakan, ”Seandainya aku dan tuanku Al-Habib Abdullah Al-Haddad ziaroh ke makam, kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang yang mati untuk bangkit dari kuburnya, pasti mereka akan bangkit sebagai orang-orang hidup dengan izin Allah. Karena aku menyaksikan sendiri bagaimana dia setiap hari telah mampu menghidupkan orang-orang yang bodoh dan lupa dengan cahaya ilmu dan nasihat. Beliau adalah lauatan ilmu pengetahuan yang tiada bertepi, yang sampai pada tingkatan Mujtahid dalam ilmu-ilmu Islam, Iman dan Ihsan. Beliau adalah mujaddid pada ilmu-ilmu tersebut bagi penghuni zaman ini. ” Syaikh Abdurrohman Al-Baiti ra. pernah berziaroh bersama Al-Habib Abdullah Al-Haddad ke makam Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali Ba’Alawy, dalam hatinya terbetik sebuah pertanyaan ketika sedang berziaroh, “Bila dalam sebuah majelis zikir para sufi hadir Al-Faqih Al-Muqaddam, Syaikh Abdurrohman Asseqaff, Syaikh Umar al-Mukhdor, Syaikh Abdullah Al-Idrus, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, dan yang semisal setara dengan mereka, mana diantara mereka yang akan berada di baris depan? Pada waktu itu guruku, Al-Habib Abdullah Al-Haddad, menyingkap apa yang ada dibenakku, kemudian dia mengatakan, ‘Saya adalah jalan keluar bagi mereka, dan tiada seseorang yang bisa masuk kepada mereka kecuali melaluiku.’ Setelah itu aku memahami bahwa beliau Al-Habib Abdullah Al-Haddad, adalah dari abad 2 H, yang diakhirkan kemunculannya oleh Allah SWT pada abad ini sebagai rohmat bagi penghuninya.” Al-Habib Ahmad bin Umar bin Semith ra. mengatakan, “Bahwa Allah memudahkan bagi pembaca karya-karya Al-Habib Abdullah Al-Haddad untuk mendapat pemahaman (futuh), dan berkah membaca karyanya Allah memudahkan segala urusannya agama, dunia dan akhirat, serta akan diberi ‘Afiat (kesejahteraan) yang sempurna dan besar kepadanya.” Al-Habib Thohir bin Umar Al-Hadad ra. mengatakan, “Semoga Allah mencurahkan kebahagiaan dan kelapangan, serta rezeki yang halal, banyak dan memudahkannya, bagi mereka yang hendak membaca karya-karya Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad ra.” Al-Habib Umar bin Zain bin Semith ra. mengatakan bahwa seseorang yang hidup sezaman dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad ra., bermukim di Mekkah, sehari setelah Al-Habib Abdullah Al-Haddad wafat, ia memberitahukan kepada sejumlah orang bahwa semalam beliau ra. sudah wafat. Ketika ditanya darimana ia mengetahuinya, ia menjawab, “Tiap hari, siang dan malam, saya melihat beliau selalu datang berthowaf mengitari Ka’bah (padahal beliau berada di Tarim, Hadhromaut). Hari ini saya tidak melihatnya lagi, karena itulah saya mengetahui bahwa beliau sudah wafat.” Karya-karya dan Karangan Kitab Al Habib Abdullah Al Haddad Beliau meninggalkan kepada umat Islam khazanah ilmu yang banyak, yang tidak ternilai, melalui kitab-kitab dan syair-syair karangan beliau. Antaranya ialah: 1. An-Nashaa’ih Ad-Dinniyah Wal-Washaya Al-Imaniyah. 2. Ad-Dakwah At Tammah. 3. Risalah Al-Mudzakarah Ma’al-Ikhwan Wal-Muhibbin. 4. Al Fushuul Al-Ilmiyah. 5. Al-Hikam. 6. Risalah Adab Sulukil-Murid. 7. Sabilul Iddikar. 8. Risalah Al-Mu’awanah. 9. Ittihafus-Sa’il Bi-Ajwibatil-Masa’il. 10. Ad-Durrul Manzhum Al-Jami’i Lil-Hikam Wal-Ulum. 11. Dll Sekian mengenai profil biografi Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang bisa kami share. semoga kita bisa meneladani akhlak dan budi pekerti Imam Haddad dalam menjalankan agama secara sempurna. dan jangan lupa untuk selalu membaca dan mengamalkan salah satu wirid dan dzikir karya beliau Ratib Al-Haddad yang memiliki banyak sekali manfaat dan keutamaan didalamnya. wallahu a'lam.

Source: http://www.fiqihmuslim.com/2016/04/profil-biografi-al-imam-al-habib-abdullah-bin-alwi-alhaddad.html

Biografi H Cumaidi Qori Internasional

Biografi Cumaidi
images.google.com

Tunggu, sedang memuat Biografi h chumaidi h qori internasional...
Anda sedang mencari buletin atas Biografi h chumaidi h qori internasional,

Biografi  Chumaidi  Qori Internasional

dibawah ini ego menyuplai sebagian informasi berhubungan berita Biografi h chumaidi h qori internasional yang kalian cari, silahkn seleksi informasi yang kamu perlukan

Biografi h chumaidi h qori internasional adalah kepala karangan sabda kunci kabar yang kamu cari,

anda pula bisa menemukan berita terbaru hari ini dengan teknik memanfaatkan kolom pengejaran yang suah aku sediakan,

selain risalah mengenai Biografi h chumaidi h qori internasional kalian kelihatannya juga sanggup mendapatkan sebagian artikel yang tampaknya sama bersama tulisan yang kamu cari, di bawah ini aku menyuguhkan berbagai risalah sama ujar kunci Biografi h chumaidi h qori internasional silakan scroll kebawah hingga anda menemukan buletin yang anda cari

Biografi Habib Bahar bin 'Ali bin Smith, Pimpinan Majelis Pembela Rasulullah SAW

Biografi Habib Bahar bin 'Ali bin Smith

Habib Bahar bin 'Ali bin Smith, Pimpinan Majelis Pembela Rasulullah SAW, yang juga dikenal dengan Habib Bule dikarenakan parasnya yang wajahnya yang kubule-bulean, ditahan oleh Mapolresta Jakarta Selatan.





Penahanan tersebut dilakukan karena aksi Nahi Munkar (mencegah kemungkan) di bulan Ramadhan terhadap Cafe De Most, Jl Veteran Raya Kavling 8 Bintaro, Pesanggrahan, Jaksel. Aksi Nahi Munkar tersebut dilakukan untuk menjaga kesucian bulan Ramadhan yang dinodai oleh orang-orang penista bulan Ramadhan.

"Habib Bahar sudah ditetapkan tersangka dan ditahan di Polres Jakarta Selatan," kata Kepala Polres Jaksel Kombes Pol Imam Sugianto kepada wartawan di kantornya, Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan, Minggu (29/7/2012), demikian dilansir oleh detik.com. 

Pada kesempatan yang sama, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, Habib Bahar berperan aktif dalam aksi tersebut dengan mengerangkan pesonelnya. Di rumah Habib Bahar pula di kawasan Pondok Aren, Tangerang, konsolidasi untuk aksi sweeping itu dilakukan. Konsolidasi itu dilakukan 2 minggu sebelum aksinya.

Kepada polisi, Habib Bahar mengaku kesal dengan adanya kafe yang membandel selama bulan puasa. Habib Bahar kemudian berinisiatif untuk melakukan aksi nahi munkar tanpa berkoordinasi dengan aparat terkait.

"Dengan alasan kafe masih buka dan disinyalir ada (barang atau kegiatan) yang dilarang selama bulan puasa, mereka insiatif menutup namun dalam tindakannya melakukan tindakan perusakan. Untuk itu kita melakukan pengamanan agar tidak terjadi lagi," paparnya.

Selain Habib Bahar, Ada Tersangka Lain

Selain Habib Bahar, polisi juga menetapkan 23 tersangka lainnya. Mereka dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang pengrusakan subsider Pasal 2 ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. Dari para tersangka, polisi menyita barang bukti berupa 1 buah golok, 1 bilah celurit, 4 bilah samurai, 4 batang stik golf, 1 buah double stik dari besi, 1 potong kayu, 1 buah bendera Majelis Pembela Rasulullah serta satu set alat musik milik kafe.

Seperti diberitakan oleh detik.com, polisi menggaruk 62 anggota ormas Majelis Pembela Rasulullah di Kafe De Most pukul 23.00 WIB. Sementara 39 lainnya dilepaskan dan dikembalikan ke orangtuanya masing-masing dengan alasan mereka masih di bawah umur. Massa mendatangi kafe tersebut dengan persenjataan seperti celurit, stik golf, golok dan samurai serta bendera ormas. Para pelaku kemudian merusak dan menghancurkan barang-barang di kafe dan memukul dua orang karyawan kafe.

Habib Bahar bin Smith sendiri, tidak hanya aktif melakukan aksi nahi munkar, namun juga dakwah Islam, bahkan pembinaan terhadap ormas-ormas para pemuda (kepemudaan). Habib Bahar juga sangat anti terhadap pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Ahmadiyah.  Dan juga pernah ikut mempertahankan Makam Mbah Priok.

Dakwah Habib Bahar Bin Smith

Habib Bahar bin Smith tidak hanya berdakwah di pulau Jawa dengan memberikan ceramah-ceramah kepada beberapa ormas seperti FBR (Forum Betawi Rempuk) dan FORKABI (Forum Komunikasi Anak Betawi) dan lain sebagainya. Namun juga aktif dakwah di Kalimantan.  Oleh karena itu, jama'ahnya tidak hanya di ada di jawa, namun juga di Kalimantan.

Tanggapan Habib Bahar Terhadap Penangkapan

Menanggapi penangkapan terhadap dirinya, Habib Bahar mengatakan "Demi Allah, penjara tidak membuat kami gentar. Kami menjaga kesucian dan kemuliaan bulan Ramadhan. Jadi bagi para orang-orang munafik yang banyak omong atas apa yang kami lakukan, diam aja kalian semua. Kalian tidak tahu apa-apa. Saya Pimpinan Majelis Pembela Rasululloh bertanggung jawab dunia akhirat atas apa yang terjadi semalam. Allahu Akbar", demikian yang disampaikan oleh Habib Bahar.

Dukungan terhadap Habib Bahar tidak hanya dari jama'ah yang berada di Jawa, namun juga jama'ahnya yang berada di Kalimantan



http://blog.resistnews.web.id/2012/07/habib-bahar-bin-ali-bin-smith-pimpinan.html

Profil, Biodata dan Biografi Gus Mus

Profil, Biodata dan Biografi Gus Mus

Profil, Biodata dan Biografi Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) - Di tengah banyaknya ustadz dan ulama muda yang bermunculan di Indonesia, ada satu nama yang sangat disegani dan dihormati. Beliau adalah ulama sepuh dan kharismatik, tausiahnya selalu menyejukkan dan selalu mengedepankan kerukunan antar umat. Gaya bicaranya juga kalem, sopan dan penuh dengan tata krama. Beliau adalah KH. Mustofa Bisri atau sering disapa Gus Mus. Profil dan bidata Gus Mus adalah salah satu tokoh NU yang sanagt dihormati oleh banyak kalangan.


Biodata dan Biografi Gus Mus 
Bukan saja dari golongan umat Islam yang menghormati sosok Gus Mus, namun dari berbagai tokoh agama lain juga sangat menaruh hormat dengan beliau. Di dala organisasi Nahdlatul Ulama sendiri, sosok profil Gus Mus begitu ditakzimi. Bahkan pada pemilihan Ketua Tanfidziah dan Syuriah beberapa waktu yang lalu, beliau lah yang menjadi penengah dan berhasil menenangkan perpecahan yang saat itu begitu memanas. Dalam menenangkan hadirin yang hadir pada saat itu Gus Mus sampai menangis. Bahkan Gus Mus yang waktu itu dicalonkan menjadi Ketua Syuriah, tidak bersedia dan lebih memilih menyerahkannya kepada yang lain.

Pidato Gus Mus pada saat itu benar-benar mengharukan dan membuat para hadirin sidang menjadi lebih tenang. Bahkan dalam isi pidatonya, beliau bersedia untuk mencium kaki para muktamirin jika itu bisa menenangkan suasana. Memang dalam kesehariannya, profil biodata Gus Mus ini tidak saja dikenal sebagai seorang Kyai, namun beliau juga dikenal sebagai seorang seniman. Banyak sekali karya seni beliau yang sudah diterbitkan, apresiasi dari berbagai kalangan dengan karya seni Gus Mus ini sudah tidak diragukan lagi.

Dalam menjalankan hobi seninya, biodata Gus Mus banyak menerbitkan cerpen, puisi dan juga melukis. Bukan saja aktif mengeluarkan lukisan, syair dan cerpen, dalam karya tulis yang bersifat ilmiah profil dan biodata Gus Mus juga bisa dikatakan sebagai serang yang produktif. Sebagai seorang ulama, keilmuan beliau memang sudah tidak ada yang menyangsikan lagi. Pendidikan keislaman yang Gus Mus tempuh pun tidak hanya di Indonesia saja, beliau juga pernah mondok dan nyantri di negara Timur Tengah. Saat ini, Gus Mus adalah pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin.

Ketika mondok di Timur Tengah, profil dan biodata Gus Mus adalah merupakan teman akrab dari Gus Dur Presidan RI ke 4. Buhkan lebih dari teman, Gus Mus adalah sahabat karib dari Gus Dur. Pemikiran Gus Mus dalam keagamaan pun juga tak beda jauh dengan Gus Dur, beliau berdua adalah Ulam-ulama yang selalu mengutamakan kemanusiaan dan kerukunan umat beragama dari pada yang lainnya. Tak heran jika beliau berdua merupakan sosok sahabat karib, karena memang beliau berdua memiliki pemikiran keislaman yang hampir sama.

Nah, jika Anda ingin mengetahui dengan detail mengenai profil dan biodata Gus Mus, atau KH. Mustofa Bisri, di bawah ini sudah kami ringkaskan mengenai profil dan biodata serta biografi lengkap Gus Mus beserta karya-karya tulis beliau.

Biodata Lengkap Gus Mus (KH. Mustofa Bisri)

Lahir : Rembang, 10 Agustus 1944
Agama : Islam
Jabatan: Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Istri: Siti Fatimah

Anak:

1. Ienas Tsuroiya
2. Kautsar Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad Bisri Mustofa

Ayah : KH. Bisri Mustofa
Ibu : Marafah Cholil

Pendidikan Gus Mus :

– Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri
– Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
– Raudlatuh Tholibin, Rembang
– Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Karya Tulis Gus Mus Dalam Bentuk Buku

– Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra Kendal, 1401 H);
– Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987);
– Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979);
– Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya);
– Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung);
– Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994);
– Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993);
– Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994);
– Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995);
– Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996);
– Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996);
– Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996);
– Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995);
– Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997);
– Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997);
– Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)

Kumpulan Puisi Gus Mus Yang Sudah Diterbitkan

● Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Cet. I Stensilan 1988; Cet. II P3M Jakarta 1990; Cet. III 1991, Pustaka Firdaus, Jakarta);
● Tadarus (Cet. Pertama 1993 Prima Pustaka, Jogjakarta);
● Pahlawan dan Tikus (Cet. I 1995, Pustaka Firdaus, Jakarta);
● Rubaiyat Angin & Rumput (Diterbitkan atas kerja sama Majalah Humor dan PT Matra Multi Media, Jakart, Tanpa Tahun);
● Wekwekwek (Cet. I 1996 Risalah Gusti, Surabaya);
● Gelap Berlapis-lapis (Fatma Press, Jakarta, Tanpa tahun);
● Negeri Daging (Cet. I. September 2002, Bentang, Jogjakarta);
● Gandrung, Sajak-sajak Cinta (Cet.I Yayasan Al-Ibriz 2000, cet. II, 2007 MataAir Publishing, Surabaya)
• Aku Manusia (MataAir Publishing, 2007, Surabaya)
• Syi’iran Asmaul Husnaa (Cet. II MataAir Publishing, 2007,Surabaya)
• Membuka Pintu Langit (Penerbit Buku Kompas, Jakarta November 2007)

Kegiatan Gus Mus Dalam Bentuk Pameran

• Pameran tunggal 99 Lukisan Amplop Desember 1997 di Gedung Pameran Senirupa Depdikbud Jakarta
• Pameran bersama Amang Rahman (Alm) dan D. Zawawi Imron Juli 2000 di Surabaya
• Pameran Lukisan dan Pembacaan Puisi bersama Danarto, Amang Rahman (Alm), D. Zawawi Imron, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor.. November 2000 di Jakarta
• Pameran Kaos Kaligrafi, Mei 2001 di Surabaya
• Pameran Kaos Kaligrafi, Agustus 2001 di Jakarta
• Pameran Lukisan bersama kawan-kawan pelukis antara lain Joko Pekik, Danarto, Acep Zamzam Noor, D. Zawawi Imron, dll, Maret 2003
• Pameran bersama dalam rangka Jambore Seni, Juli 2006
• Pameran Kaligrafi Bersama, Jogya Galery, 2007

Organisasi Gus Mus


Mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode 1994-1999 dan 1999-2004

Biografi Gus Nur yang Fenomenal

Biografi Gus Nur
Pada bulan puasa kemarin saya sempat membahas orang ini, lalu saya di telpon oleh tetangga dia sendiri seorang dzurriyah Rasulullah SAW berinisial IM, kelahiran Pasuruan, Kec, Bangil, Kel, Gempeng, alumnus Ponpes Sidogiri Pasuruan. Beliau menyarankan saya untuk tidak membahas orang satu ini, karena katanya, orang ini bukan level saya, sebab orang ini sama sekali tidak paham agama, jangankan diminta suruh membaca kitab gundul, suruh membaca Alquranpun salah semua dari segi makhraj huruf dan tata Tajdwidnya terlebih tentang gharaibul qiraahnya.

Awalnya saya kaget dan kurang percaya dengan apa yang diutarakan oleh Sayyid IM tentangganya itu, karena dalam hati saya mengatakan " bagaimana mungkin seorang GUS yang sudah berani mengisi taushiyah tidak bisa membaca Alquran dengan baik dan tidak bisa memahami kitab-kitab gundul?" tapi setelah saya kroscek lihat semua video ceramahnya di yutub, ternyata memang benar dengan apa yg dikatakan sayid IM tentangganya itu. Semua Makharij hurufnya Amburadul, Tajwidnya belepotan, melihat ketika dia melafalkan Ayat Alquran, hati saya langsung ngenes menangis, sungguh kasihan para korban (khususnya para TKI ) yang di Taiwan dan HK yang mau-maunya mengeluarkan biaya besar hanya mendapatkan ilmu yang kelak justru akan membahayakan mereka sendiri.


Menurut cerita Sayid IM yang jadi tetangganya Gus Nur. GN adalah orang Biasa bukan anak Kyai, apalagi seorang Gus, santri saja bukan(alias tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren), bahkan waktu didesanyapun ngaji saja dia tidak pernah, dia tidak disukai oleh Masyarakat didesanya, lalu dia akhirnya tidak kuat tinggal didesanya dan pergi entah kemana, selang beberapa tahun, dia muncul di yutup dan bergelar "Gus". Belakangan ada khabar, selama menghilang dia tinggal di Bali. Menurut informasi, dia mendapat gelar Gus setelah seringnya dia membawa Jama'ah ziarah ke makam orang-orang shaleh.

Kini semakin banyak para masyarakat Awam yang mengundangnya untuk mengisi ceramah, khususnya para TKI Taiwan dan HK. Dan Si Nur ini sekarang Punya Ponpes Tahfidz Alquran. Bisa dibayangkan khan, betapa hancurnya Syari'at Agung Baginda Nabi Saw dipasrahkan kepada Orang yang Bukan Ahlinya?. Karena Kanjeng Nabi Saw sudah mengingatkan kita dengan sabdanya :

اذا وسدت الامانة لغير اهله فانتظروا الساعة

Ketika amanah (agama) dipasrahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya.

Dia sekarang menyerang PBNU dengan Mengatakan sebagai pelacur agama. Padahal justru dialah sesungguhnya yang telah menjadi pelacur agama selama ini. 
Orang yang membaca Alquran saja belepotan kok bikin pesantren.. Jujur saya kasihan sama para TKI yang sudah menginfaqkan Hartanya pada tempat yang salah. Saya sangat khawatir, Mereka siang malam bekerja, peras keringat tanpa kenal lelah, lalu sebagian uangnya didonasikan untuk ikut menyumbangkan Pesantren GN. Bisa dibayangkan bagaimana mengenaskannya nasib para Santri pesantrennya jika seorang Pengasuhnya saja belepotan membaca Alquran.

biografi emha ainun najib

Profil dan Biografi Emha Ainun Najib. Namanya Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM).
biografi emha ainun najib


Lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha. Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang mBulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Selain itu ia juga menyelenggarakan acara Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender. Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu. Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuatrumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjasjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. "Itu hanya be baik sudah berdakwah," katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama Istrinya Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, maya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti -- yang berpangkalan di ntuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal," ujarnya.

Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.

Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina



(1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).

Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan. Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994)

Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);

Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta” (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).

Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, "Sholatullah salamullah/ ’Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullah/ ’Ala yaasin Habibillah/ ’Ala yaasin Habibillah..."
Biografi Emha Ainun Nadjib
Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan. "Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat," ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid. Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam, itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. "Ada apa dengan pluralisme?" katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. "Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar," ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua," tutur budayawan intelektual itu

Biografi Gus Maksum Lirboyo Kediri

Biografi Gus Maksum Lirboyo Kediri
PENDIRI PENCAK SILAT PAGAR NUSA
Biografi Gus Maksum Lirboyo Kediri

Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding. Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal. Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”. Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985 berkumpulah mereka di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon,
bahkan dari pulau Kalimantan pun datang. Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa yang merupakan kepanjangan dari Pagarnya NU dan Bangsa. Kontan para musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH. Ahmad Sidiq. Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH. Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan (*Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista Surabaya*).

Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna.

Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo
dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.

sUMBER :http://nahdhiyyin.blogspot.com/2013/01/biografi-gus-maksum-lirboyo-kediri.html

Biodata dan Biografi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)

Profil, Biodata dan Biografi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) Kyai Kanjeng - Bagi temen-temen yang pernah menyaksikan peristiwa 98, tentu nama yang satu ini tidak asing lagi. Peristiwa 98 yang merupakan terjadinya Reformasi di Indonesia dengan menggulingkan Soeharto adalah suatu peristiwa yang sangat luar biasa. Ada banyak tokoh yang turut serta membidani dan ikut mendukung adanya Reformasi di Indonesia. Tak kurang Gus Dur, Megawati, Amin Rais dan tentunya Cak Nun juga merupakan tokoh yang mendukung Reformasi kala itu.
Biodata dan Biografi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)

Cak Nun atau nama lengkapnya Emha Ainun Nadjib ini memiliki peran besar di dalam peristiwa tersebut. Saat ini, beliau lebih sering mengisi acara secara offline meski masih sangat padat. Selain banyak mengisi acara offline di daerah-daerah, beliau juga sering mengisi acara di luar negeri. Mungkin masih ada banyak yang belum memahami siapa sebenarnya profil dan biodata Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib ini. Maka dari itu, di bawah ini akan kami sampaikan sekilas mengenai profil dan biodata Cak Nun.

Emha Ainun Nadjib adalah seorang budayawan dan seniman. Meski beliau sering berdakwah dan menyebarkan nilai-nilai Islam, Cak Nun tidak bersedia dipanggil ustadz, apalagi Kyai. Beliau lebih suka disapa dengan sebuatn Cak atau Mbah saja. Selain seorang budayawan, Cak Nun adalah seorang intelektual muslim dari Jombang Jawa Timur. Beliau sering dan selalu menyebarkan Islam dengan nilai-nilaia perdamaian. Di luar negeri pun, Cak Nun selalu membawa Islam dengan mencorakkan bahwa Islam itu damai.
Perjalanan Cak Nun dalam khazanah budaya keislaman ini cukup panjang. Pendidikan Islam Cak Nun juga bisa dikatakan sangat panjang dan beragam. Selain menekuni dunia seni, terutama seni musik, Cak Nun juga adalah seorang penulis yang aktif dan juga senang teater. Tulisan-tulisan beliau lebih banyak berupa kritik sosial terhadap berbagai masalah sosial dan kehidupan yang sedang terjadi. Cak Nun juga sangat aktif dalam menulis puisi, banyak sekali karya puisi yang sudah beliau tulis.

Dalam berbagai kesempatan pentas, beliau selalu ditemani oleh grup musik Kyai Kanjeng. Gaya berdakawah Cak Nun lebih seperti diskusi bareng dalam membedah berbagai masalah yang sedang dihadapi umumnya orang banyak. Cak Nun menjadi narasumber dari pengajian aktif yang disebut dengan komunitas Padang Mbulan di berbagai daerah pelosok dan desa-desa. Musik Kyai Kanjeng yang selalu menemani Cak Nun juga merupakan perpaduan dari berbagai jenis aliran musik, kadan bermain secara tradisional, kadang musik pop, kadang juga bermusik dengan gaya Islami.

Biodata Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
Nama Lengkap : Emha Ainun Nadjib
Alias : Cak Nun/Mbah Nun
Profesi : Budayawan
Agama : Islam
Tempat Lahir : Jombang, Jawa Timur
Tanggal Lahir : Rabu, 27 Mei 1953
Zodiac : Gemini
Warga Negara : Indonesia
Istri : Novia S. Kolopaking
Anak : Sabrang Mowo Damar Panuluh, Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha

Pendidikan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
SD, Jombang (1965)
SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968)
SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971)
Pondok Pesantren Modern Gontor
Fakultas Ekonomi UGM (tidak tamat)

Karir Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970)
Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976)
Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta)
Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng
Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media